3. Manajemen Konflik

Konflik merupakan bagian yang sudah lazim dalam kehidupan manusia. Setiap individu pasti mengalami konflik, baik itu dalam diri sendiri maupun dengan orang lain. Definisi konflik oleh Marquis dan Huston (1998) menyatakan bahwa konflik adalah ketidaksepakatan yang muncul dari perbedaan pandangan, nilai, atau keyakinan di antara dua orang atau lebih. Sebagai suatu peristiwa, konflik terjadi saat ada ketidaksepahaman antara dua individu atau organisasi, di mana mereka menghadapi situasi yang berpotensi mengancam kepentingan masing-masing. Sebagai suatu proses, konflik dilihat sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan oleh dua individu atau kelompok, di mana setiap pihak berupaya mempertahankan atau mencapai kepuasan dari tujuannya.

Sejak seratus tahun yang lalu, telah terjadi suatu kejadian yang alamiah dan pasti dalam organisasi, yaitu konflik. Pada masa awal abad ke-20, konflik digambarkan sebagai tanda kelemahan dalam manajemen suatu organisasi yang sebaiknya dihindari. Walaupun keharmonisan dalam suatu organisasi diinginkan, konflik tetap merupakan potensi kerusakan. Saat konflik muncul, walaupun diinginkan untuk dihindari dan ditolak, namun harus diselesaikan dengan cepat. Konflik sebenarnya bisa dihindari jika staf memiliki arahan yang jelas dalam tugas mereka dan jika ketidakpuasan staf diekspresikan secara langsung untuk mencegah penumpukan masalah.

Menurut para ahli, konflik berasal dari kata Latin "con" yang berarti bersama, dan "fligere" yang berarti benturan atau tabrakan. Secara sosial, konflik dijelaskan sebagai interaksi sosial antara dua orang atau lebih, bahkan kelompok, di mana salah satu pihak berupaya mengatasi pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya (Lewis A. Coser, 1997). Pendapat Husni (2004) menyatakan bahwa konflik adalah situasi di mana satu pihak ingin agar pihak lain bertindak sesuai keinginan mereka, namun pihak lain menolak untuk melakukannya. Sedangkan menurut Peg Pickering (2000), konflik adalah:

a. Persaingan atau keadaan ketidakcocokan.
b. Antagonisme dalam bentuk ide, kepentingan, atau pribadi.
c. Perjuangan karena kebutuhan, dorongan, kebijakan, atau tuntutan yang berbeda.
d. Sikap atau kondisi bermusuhan.

Dari berbagai definisi tersebut, konflik bisa dipahami sebagai situasi di mana seseorang mengalami ketidakcocokan antara apa yang diinginkan atau diperlukan dengan keadaan yang ada, sehingga memerlukan penyelesaian masalah melalui perjuangan, baik itu perorangan, kelompok, maupun dalam skala negara.

Konflik merupakan bentuk sikap atau perilaku yang bisa memicu pertikaian antara dua orang atau lebih. Beberapa unsur konflik meliputi:

1. Terlibatnya minimal dua pihak.

2. Adanya perbedaan tujuan antara pihak-pihak tersebut, dimana satu pihak ingin agar pihak lain bertindak atau berperilaku sesuai dengan kehendaknya.

3. Pihak yang lain menolak permintaan tersebut atau tidak mencapai kesepakatan, baik itu dalam skala perorangan, kelompok, maupun negara.

Strategi perusahaan adalah rencana jangka panjang yang disusun oleh organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuan spesifik dalam konteks bisnisnya. Ini melibatkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengelola risiko, menjaga keunggulan dalam persaingan, dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis yakni, konflik intrapersonal, interpersonal dan antar kelompok. Siklus konflik terdiri dari tingkat berhubungan konflik yang meliputi: 1. Relationship Conflict (Konflik Hubungan) 2. Data conflict (konflik data) 3. Interest conflict (konflik kepentingan) 4. Structural conflict (Konflik structural) 5. Value conflict (konflik nilai)

Konflik sebenarnya bisa sengaja untuk tujuan tertentu. Untuk itu adanya konfli tidak selmanya membawa dampak negative (disfungsi), tetapi konflik juga mempunyai dampak positif (fungsi). Oleh karena itu konflik memiliki dua sisi, yaitu fungsi konflik dan disfungsi dari konflik.

Proses konflik dibagi menjadi beberapa tahapan: 1. Konflik Laten 2. Felt Conflict (konflik yang dirasakan) 3. Konflik yang Nampak atau sengaja dimunculkan 4. Resolusi konflik 5. Konflik “aftermath”. Vestal (1994) menjabarkan langkah-langkah menyelesaikan suatu konflik meliputi: 1. Pengkajian a. Analisis situasi b. Analisis dan mematikan isu yang berkembang c. Menyusun tujuan 2. Identifikasi a. Mengelola perasaan 3. Intervensi

Ada dua strategi penyelesaian konflik yang umum digunakan. Pertama, penyelesaian secara damai yang mencakup pendekatan dialogis dan non-konfrontatif. Kedua, penyelesaian konflik secara luas melibatkan beberapa metode, seperti mediasi, konsiliasi, arbitrase, dan pendekatan mutual gains dalam negosiasi. Prinsip-prinsip Mutual Gains Negotiations, yang dikemukakan oleh Fisher dan Hutchinson, mencakup lima langkah kunci: mengidentifikasi kepentingan, mempertimbangkan semua opsi, mengembangkan standar atau kriteria, memahami alternatif yang tersedia, dan membangun hubungan yang baik.

Mengacu pada analisis dari penjelasan di atas, konflik yang dipahami sebagai ketidaksepahaman akibat perbedaan pandangan atau kepentingan, merupakan bagian integral dari kehidupan manusia dan organisasi. Sejak abad ke-20, konflik dalam organisasi awalnya dipandang sebagai kelemahan yang harus dihindari, namun kini diakui sebagai fenomena yang tidak bisa dielakkan dan memerlukan penyelesaian cepat. Beberapa ahli menguraikan bahwa konflik terjadi saat ada ketidakcocokan antara apa yang diinginkan dan realitas yang ada, sehingga membutuhkan penyelesaian melalui perjuangan individu atau kelompok. Meskipun sering dianggap negatif, konflik juga memiliki sisi positif dengan memicu perubahan dan inovasi. Penyelesaian konflik dapat dilakukan secara damai melalui dialog dan mediasi, atau melalui strategi seperti arbitrase dan negosiasi yang berfokus pada keuntungan bersama. Proses penyelesaian konflik melibatkan tahapan dari identifikasi hingga resolusi dan aftermath, memastikan bahwa konflik tidak hanya terselesaikan tetapi juga meninggalkan dampak yang konstruktif bagi pihak-pihak yang terlibat.

Sebagai contoh studi kasus, pada suatu malam di rumah sakit, seorang perawat RN yang bertugas jatuh sakit, meninggalkan satu perawat RN dan satu perawat K untuk melayani 26 pasien. Perawat K menyatakan kesediaannya untuk mengambil alih shift tersebut dengan syarat mendapat bantuan segera. Meskipun tidak peduli dengan status perawat RN, yang penting baginya adalah kemampuan dan ketrampilan dalam merawat pasien. Namun, tantangan muncul karena mereka merasa beban kerja terlalu berat, upah yang rendah, serta kurangnya perhatian dari manajemen rumah sakit. Keadaan ini menunjukkan bahwa dalam situasi tersebut, perawat-perawat merasa terbebani oleh kondisi kerja yang sulit dan kurangnya dukungan dari manajemen rumah sakit.

Referensi:

Nursalam, 2008. Manajemen Keperawatan:Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: Salemba Medika

Kurniadi, Anwar. 2013. Manajemen Keperawatan dan Prospektifnya: Teori, Konsep,
dan Aplikasi. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Studi Kasus dalam zaa23.wordpress/2009/05/13/studi-kasus-manajemen/ diakses Pada
Hari Rabu, Tanggal 29 Mei 2013, Pukul: 12 WIB

Komentar

Postingan Populer