9. Stress dan Manajemen Stress
Stress adalah suatu kondisi yang menekan fisik dan mental seseorang, yang bisa muncul dari berbagai tekanan dalam hidup. Jika tekanan ini terlalu besar, kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungannya bisa terganggu. Menurut Robbins, stress adalah kondisi yang menghambat keadaan psikis seseorang saat berusaha mencapai suatu tujuan karena adanya batasan atau penghalang. Manajemen stress adalah cara untuk menggunakan sumber daya manusia dengan efektif agar bisa mengatasi gangguan mental dan emosional yang muncul sebagai respon terhadap stress.
Stres dapat dipicu oleh berbagai faktor. Dari sisi biologis, stres bisa disebabkan oleh faktor genetika, pengalaman hidup yang dialami seseorang, kualitas tidur, dan pola makan. Dari sisi psikologis, stres dapat timbul dari cara seseorang memandang suatu situasi, perasaan yang dirasakan, dan emosi yang dialami. Semua faktor ini saling berinteraksi dan mempengaruhi tingkat stres yang dirasakan oleh seseorang.
Untuk mengatasi stres secara aktif dan positif menurut Taylor (dalam Segarahayu, 2013: 6), ada tiga tahap yang harus dilakukan. Pertama, partisipan harus mempelajari apa itu stres dan bagaimana mengenali sumber-sumber stres dalam hidup mereka. Kedua, mereka perlu memperoleh dan mempraktikkan keterampilan untuk mengatasi stres. Ketiga, partisipan harus mempraktikkan teknik manajemen stres dalam situasi yang penuh tekanan dan memantau seberapa efektif teknik-teknik tersebut.
Untuk mengelola stres, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, berkonsentrasi pada tugas yang sedang dilakukan dapat membantu mengurangi stres dengan menjaga pikiran tetap fokus dan menghindari kekhawatiran yang berlebihan. Kedua, meningkatkan keterampilan belajar juga penting, karena dengan menguasai materi dan tugas, kita merasa lebih percaya diri dan tidak mudah stres. Terakhir, istirahat yang cukup sangat diperlukan agar tubuh dan pikiran bisa pulih, sehingga kita siap menghadapi tantangan berikutnya dengan energi yang baru.
Menurut Baram, gejala-gejala stres dapat terlihat dalam bentuk tanda-tanda fisik dan emosional. Tanda-tanda fisik bisa termasuk sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan gangguan tidur. Sedangkan tanda-tanda emosional bisa meliputi perasaan cemas, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi. Stres berdampak pada individu dalam tiga aspek utama: fisiologis, psikologis, dan perilaku. Secara fisiologis, stres dapat menyebabkan masalah seperti sakit kepala, peningkatan tekanan darah, gangguan pencernaan, dan penurunan sistem kekebalan tubuh. Secara psikologis, stres bisa memicu perasaan cemas, depresi, mudah marah, dan kesulitan berkonsentrasi. Dari segi perilaku, stres dapat mengubah pola makan dan tidur, meningkatkan penggunaan zat adiktif seperti alkohol dan rokok, serta menyebabkan perilaku menghindar atau menarik diri dari interaksi sosial. Jadi, stres tidak hanya mempengaruhi tubuh dan pikiran, tetapi juga cara seseorang berperilaku sehari-hari.
Beberapa cara untuk menghindari stres adalah sebagai berikut. Di rumah, penting untuk mencari waktu santai, belajar dan menguasai teknik mengatur waktu, berolahraga secara teratur, banyak tersenyum, menata rumah, dan tidur yang cukup. Di kantor, cobalah mencari waktu santai, menghindari politik dan gosip kantor, menjadi anggota perkumpulan, serta membangun sikap dan pola pikir yang positif.
Beberapa cara untuk mengatasi stres antara lain adalah melalui psikoterapi, berpikir positif, tidur yang cukup, tertawa, dan olahraga. Psikoterapi melibatkan berbicara dengan profesional untuk memahami dan mengatasi masalah emosional. Berpikir positif membantu menjaga pikiran tetap optimis. Tidur yang cukup penting untuk memulihkan energi dan menenangkan pikiran. Tertawa dapat mengurangi ketegangan dan meningkatkan suasana hati. Olahraga juga efektif dalam meredakan stres karena meningkatkan produksi hormon endorfin yang membuat kita merasa lebih baik.
Berdasarkan penelaahan dari uraian sebelumnya, stress adalah kondisi kompleks yang dapat muncul dari berbagai faktor, baik biologis maupun psikologis, dan mempengaruhi individu dalam aspek fisik, psikologis, dan perilaku. Pengelolaan stress menjadi penting, dengan tahapan pemahaman akan sumber stres dan penerapan teknik manajemen yang sesuai. Gejala stres dapat bervariasi, termasuk dalam tanda-tanda fisik dan emosional, serta berdampak pada perilaku sehari-hari. Menghindari dan mengatasi stres melalui berbagai cara, baik dengan perubahan gaya hidup, strategi psikologis, maupun intervensi medis, menjadi kunci untuk menjaga kesejahteraan mental dan fisik individu.
Sebagai contoh, berdasarkan studi kasus PT. Pos Indonesia, sebuah perusahaan jasa pengiriman tertua di Indonesia, berusaha mempertahankan keberadaannya dengan terus memberikan layanan yang cepat dan tepat waktu sesuai visi mereka untuk menjadi raksasa logistik dari Timur. Namun, tekanan untuk meningkatkan kinerja membuat karyawan mengalami stres dan konflik, baik individu maupun tim, yang mempengaruhi dinamika kinerja mereka. Stres yang menumpuk memicu gesekan antar karyawan, yang kemudian menimbulkan konflik. Konflik ini bisa berasal dari persaingan antar divisi dalam menyelesaikan tugas, saling melempar tanggung jawab dalam satu divisi, perbedaan pendapat, kurangnya inisiatif, cara berkomunikasi yang kurang baik, gaya kepemimpinan, atau kurangnya penghargaan.
Referensi:
Alawiyah, S. (2020). Manajemen stres dan motivasi belajar siswa pada era disrupsi. Al-Idarah:
Jurnal Kependidikan Islam, 10 (2), 211-221.
Anugraheni, A. R., Separina, C. A., Paramitasari, S. P., Vionita, V. K., & Husna, A. N. (2019,
October). Skala motivasi belajar: konstruksi dan analisis psikometri. In prosiding
University research colloquium (pp. 66-69).
Aprillia, A. D. (2019). Hubungan antara kontrol diri dengan kecanduan media sosial
(instagram) pada remaja di SMA Harapan 1 Medan (Doctoral dissertation, Universitas
Medan Area).
Azwar, S. (2012). penyusunan skala psikologi edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barseli, M., & Ifdil, I. (2017). konsep stres akademik siswa. Jurnal konseling dan pendidikan,
5, 143-148.
Barseli, M., Ifdil, I., & Fitria, L. (2020). Stress akademik akibat Covid-19. JPGI (Jurnal
Penelitian Guru Indonesia), 5(2), 95-99.
Bedewy, D., & Gabriel, A. (2015). Examining perceptions of academic stress and its sources
among university students: The Perception of academic stress scale. Health Psychology
Open, 2(2), 2055102915596714.
B. Uno, Hamzah. 2013. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Cahyani, A., Listiana, I. D., & Larasati, S. P. D. (2020). Motivasi belajar siswa SMA pada
pembelajaran daring di masa pandemi covid-19. IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal
Pendidikan Islam, 3(01), 123-140.
Dimyati & Mudjiono. (2011). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Emda, A. (2017). Kedudukan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran. Lantanida Journal,
5 (2), 93–196.
Gadzella, B. M., & Masten, W. G. (2005). An analysis of the categories in the student-life
stress inventory. American Journal of Psychological Research, 3 (1), 15.
Gurning, A. E. (2017). Hubungan tingkat stres terhadap tingkat motivasi belajar remaja kelas
XII dalam persiapan ujian nasional di SMA St. Maria Monica, Bekasi Timur (Doctoral
dissertation, Universitas Binawan).
Guyana, C. (2014). Pengaruh manajemen stres terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran
akuntansi SMK Negeri 1 Pontianak. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa
(JPPK), 5 (5).
Indria, I., Siregar, J., & Herawaty, Y.(2019). Hubungan antara kesabaran dan stres akademik
pada mahasiswa di pekanbaru. AN-NAFS, 13 (01), 21– 34
Komentar
Posting Komentar